Jumat, 28 Oktober 2011

PEMIKIRAN EKONOMI HATTA

Lewat integritas pribadi dan kecendikiawanannya,Mohammad hatta tak terbantahkan menjadi model ideal seorang pejuang-politisi-negarawan-pemikir,meski sejarah cenderung menempatkan dia dalam posisi marjinal..Buah pemikiran Ekonomi Hatta adalah mutiara yang layak kita temukan kembali.Tidak ada pendiri negeri yang menulis sebanyak Hatta.

Dalam pelajaran sekolah ,Hatta memang disusutkan sekadar "Bapak koperasi" atau "Proklamator kemerdekaan".Tapi Hatta lebih luas dari itu.Orang sering lupa betapa tulisannya semasa mahasiswa di Negeri Belanda dan pledoinnya di Pengadilan Den haag pada 1927 ,sarat dengan analisis ekonomi.Di jantung kolonialisme ,Hatta menusukan serangannya yang tajam lewat pisau bedah ekonomi yang dengan gagah berani menguliti sistem ekonomi kaum kolonial yang kapitalistik serta eksploitatif.

Hatta ingin mengatakan bahwa kemerdekaan fisik dan politik saja sebenarnya tidak cukup,suatu hal yang buktinya  demikian nyata bahkan setelah 60 tahun lebih Indonesia merdeka.Tulisan Hatta di berbagai majalah pada 1930 dan 1940an mencakup tema tema ekonomi sama banyak dengan politik.Dia bahkan sering membahas aspek sangat teknis tentang ekonomi seperti uang dan bank ,asal muasal krisis ekonomi global,serta pengalaman industrialisasi Barat.Istilah "pasar bebas"atau"laissez faire",yang sekarang sangat populer,sudah dibahasnya berulang-ulang kala itu,lengkap dengan kelebihan dan terutama kekurangannya.Itu semua menunjukan betapa luas pengetahuan  ekonomi Hatta, baik teoritis,historis maupun empiris.

Meski situasi global sudah demikian berubah sekarang,ada beberapa pemikiran Hatta yang bersifat relatif kekal.Kita perlu menekankan pada beberapa hal di sini:

Pentingnya pertanian.Untuk mencapai kemakmuran rakyat di masa datang, politik perekonomian mestilah disusun diatas dasar yang nyata sekarang,yaitu Indonesia sebagai negara agraria.Hatta tidak anti industrialisasi,dia menekankan bahwa  industrialisasi hanya kokoh jika dicapai secara alamiah lewat pijakan sektor pertanian,sebab hanya jika petani makmur maka industri akan bisa hidup.Menyelami depresi ekonomi global 1930an atau masa sekarang,bahwa besarnya hantaman krisis yang dialami sebuah negara sangat tergantung pada struktur ekonominya.Negeri yang memiliki sektor industri dan pertanian kira2 sama berat lebih stabil hantaman krisisnya.Negeri yang meninggalkan pertanian dan memindahkan pusat perekonomiannya ke daerah industri dengan menarik senantiasa rakyat dari dusun ke kota,memang cepat menjadi negeri kapitalis besar ,tetapi tidak terpelihara dari kemundurannya,seperti Inggris yang mengalami kehancuran ekonomi di tahun 30an dibandingkan Prancis yang lebih seimbang antara industri dan pertaniannya.
Hak atas tanah.Kemelaratan timbul dalam negeri agraria,apabila timbul milik individuil yang besar atas tanah.Dari sejarah sosial dapat kita saksikan,bahwa milik individuil dalam negeri agraria menimbulkan sistem feodalisme dan feodalisme menimbulkan perbudakan.Hatta sudah sejak dini mengingatkan pentingnya pembatasan pemilikan tanah atau land reform,yang puluhan tahun kemudian ditekankan kembali oleh para penyokong teori pembangunan(orde baru).
Konglomerasi Bisnis dan Krisis.Hatta juga menunjuk depresi Besar 1930an sebagai bukti betapa kelirunya ramalan para pemikir kapitalis bahwa bank sentral yang rapi dan perusahaan-perusahaan raksasa lebih mampu memperkecil guncangan pasar.Hatta menulis:"kesanggupan badan-badan raksasa itu tidak begitu besar untuk mencegah hantaman krisis".
Serikat Buruh.Perbaikan nasib buruh tergantung pada kemampuannya berorganisasi,membentuk serikat.Di Indonesia halangan terhadap munculnya serikat buruh tidak hanya muncul dari pemilik modal dan pemerintah yang mengundangnya,tapi juga dari pengertian yang keliru tentang buruh dari sejak awalnya.
Pendidikan kolonial,menurut Hatta ,membawa kecondongan memandang buruh sebagai profesi kasar atau jumud.Banyak ambtenaar didikan Belanda merasa diri"priyayi"padahal mereka pada dasarnya pegawai artinya buruh juga,dengan pengertian yang keliru itu,si buruh tidak tahu menjaga penghidupanya dengan sebenarnya dan tidak dapat menyusun tenaga untuk memperbaiki nasibnya.Serikat pekerja telah mendapat halangan pertama kali dari dalam golongannya sendiri.
Koperasi dan Demokrasi.Sayang ,koperasi belakangan terlanjur rusak menjadi slogan ekonomi yang kosong  menjadi kata buruk karena kekeliruan konsepsi dan salah arah dalam pelaksanaanya.Koperasi tidak bisa tumbuh dalam iklim kediktatoran,sebaliknya koperasi juga merupakan prasyarat bagi munculnya nilai-nilai demokrasi.Koperasi berjasa besar dalam memperkuat dasar demokrasi politik."Demokrasi politik yang sehat adalah suatu syarat yang mutlak untuk mencapai demokrasi ekonomi.
Hatta mengajak kita mencontoh koperasi yang ada di denmark,tempat bangunan "kooperasi paling mendekati ideal kooperasi",dengan jalan organisasi koperasi rakyat Denmark sanggup mengangkat dirinya  dari bangsa yang miskin menjadi salah satu bangsa paling makmur di dunia dan stabil secara politk dan sosial.Kooperasi memperkuat rasa percaya pada diri sendiri dan yang lebih penting "Sekolah untuk mendidik diri sendiri bagi anggota-anggotanya,ia mengajarkan mereka mengemudikan sendiri dengan bebas usaha mereka dan mengajar bersekutu dengan orang lain.
Pasar bebas(Laisezz faire).Menurut Hatta memang baik bagi bangsa yang telah maju terlebih dahulu,istimewa dalam hal industri.Berpedoman dengan pasar bebas kemakmuran rakyatnya cepat besarnya,namun menurut Hatta pasar bebas boleh mujarab apabila cukup syaratnya yaitu sama kemampuan dan kedudukan segala bangsa di dunia.Tindakan mereka memang menguntungkan bagi yang kuat namun menjadi ikatan bagi yang lemah.
Pasar bebas kata Hatta mustajab pada Abad ke 19 karena industri modern baru pada permulaannya,pasar masih banyak yang kosong dan lapar akan barang.Sebab itu menambah penghasilan dan akibatnya menciptakan kemakmuran."Tetapi apabila pasar sudah mulai "kenyang"seperti yang terjadi pada abad kita,pasar bebas tidak dapat membawa kebaikan lagi..Malahan akan menimbulkan kecelakaan".Di masa datang,pemerintah tak dapat lagi menyerahkan segala tindakan ekonomi kepada pelaku ekonomi saja,ia terpaksa campur tangan dengan aktif.
Desentralisasi atau Otonomi Daerah.Memberikan otonomi daerah menurut Hatta tidak saja berarti menjalankan demokrasi,tetapi juga mendorong melaksanakan sendiri apa yang dianggap penting bagi lingkungan sendiri,tercapailah apa yang dimaksud dengan demokrasi,yakni pemerintahan yang dilaksanakan oleh rakyat ,untuk rakyat.
Demokrasi ,bagi Hatta berlawanan dengan dasar sentralisme yang membulatkan segala kekuasaan di tangan pemerintahan pusat dan DPR.Semakin luas daerah negara, semakin banyak diferensiasi kepentingan hidup, semakin banyak masalah khusus yang mengenai berbagai daerah masing-masing yang semuanya itu tidak dapat diurus dari pusat pemerintahan negara.
Pentingnya Desa.Desentralisasi bagi Hatta bahkan harus diusahakan hingga ke tingkat desa.Berlawanan dengan banyak pandangan  di kalangan birokrat ,Hatta memang percaya bahwa desa-desa di Indonesia sebenarnya memiliki modal demokrasi yang cukup untuk bisa melaksanaka pemerintahan sendiri,walaupun banyak yang rusak oleh pengaruh kolonialis dan kapitalisme,tetapi akar-akarnya masih ada dan masih hidup.
Hatta mengkritik pandangan yang mengatakan bahwa desa terlalu primitif dan karenanya harus diciptakan kecamatan sebagai pandangan yang picik.Bagi Hatta , kecamatan sebagai tingkat otonomi ketiga(setelah propinsi dan kabupaten)adalah pemborosan birokrasi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar