Rabu, 03 Agustus 2011

KYAI SEMAR BODRONOYO

Kyai Semar Bodronoyo

Salah satu tokoh wayang yang paling banyak digemari dalam masyarakat Jawa adalah Semar. Dalam mitologi Jawa, semar adalah seorang pemimpin yang sering dipuja karena keberhasilannya dalam memajukan bangsa. Tokoh ini banyak dijadikan sebagai simbol seorang pemimpin yang ideal, yang memiliki sifat rendah hati, suka menolong sesama, tidak serakah, melakukan tapa , mengurangi makan dan tidur, dan laku lainnya. Hal ini menarik karena sifat-sifat manusia dalam mitologi Jawa sering kali disimbolkan dengan sifat dan watak dari tokoh-tokoh dalam dunia pewayangan, bahwa apa yang terjadi di dunia pewayangan akan terjadi pula di dunia nyata ini, seolah apa yang dilakonkan dalam cerita wayang, menggambarkan keadaan yang nyata baik yang sudah terjadi maupun yang akan terjadi. Dalam kenyataan hidup, semar merupakan lambang yang memberi petunjuk mengenai hidup, kehidupan dan masalahnya. Petunjuk-petunjuk semar sedehana, karena dia seorang pembantu atau abdi , tetapi karena tokoh semar ini baik hati dan penasehat para Pandhawa yang bijaksana, para hadirin yang menonton wayang wajib memperhatikan nasehat dan ajaran semar serta petunjuknya, yang selama ini dianggap sebagai contoh dan teladan orang Jawa.
Oleh karena itu, menurut Niels Mulder (1996) ajaran-ajaran Jawa penuh dengan simbolisme dan ilmu rahasia ( ngelmu ) yang memacu angan-angan dan renungam mitologi wayang purwa yang diilhami oleh cerita Mahabharata , kehidupan dunia nampak hanya merupakan pencerminan semata, suatu bayangan dari kebenaran dan kejadian-kejadian yang lebih tinggi.
Dalam pembahasan akan dipapar lebih lanjut mengenai tokoh semar dalam mitologi Jawa dilihat dari konsep kepemimpinan dan pengaruhnya dalam kehidupan masyarakat Jawa pada khususnya dan masyarakat Indonesia pada umumnya.
Semar dalam bahasa Jawa (filosofi Jawa) disebut Badranaya
Bebadra = Membangun sarana dari dasar
Naya = Nayaka = Utusan mangrasul
Artinya : Mengembani sifat membangun dan melaksanakan perintah Allah demi kesejahteraan manusia
Javanologi : Semar = Haseming samar-samar (Fenomena harafiah makna kehidupan Sang Penuntun). Semar tidak lelaki dan bukan perempuan, tangan kanannya keatas dan tangan kirinya kebelakang. Maknanya : "Sebagai pribadi tokoh semar hendak mengatakan simbul Sang Maha Tumggal". Sedang tangan kirinya bermakna "berserah total dan mutlak serta selakigus simbul keilmuaan yang netral namun simpatik".
Kebudayaan Jawa telah melahirkan religi dalam wujud kepercayaan terhadap Tuhan yang Maha Esa, yaitu adanya wujud tokoh wayang Semar, jauh sebelum masuknya kebudayaan Hindu, Budha dan Isalam di tanah Jawa.

Dikalangan spiritual Jawa ,Tokoh wayang Semar ternyata dipandang bukan sebagai fakta historis, tetapi lebih bersifat mitologi dan symbolis tentang KeEsa-an, yaitu: Suatu lambang dari pengejawantahan expresi, persepsi dan pengertian tentang Illahi yang menunjukkan pada konsepsi spiritual . Pengertian ini tidak lain hanyalah suatu bukti yang kuat bahwa orang Jawa sejak jaman prasejarah adalah Relegius dan ber keTuhan-an yang Maha Esa.
Semar itu lambang gelap gulita, lambang misteri, ketidaktahuan mutlak, yang dalam beberapa ajaran mistik sering disebut-sebut sebagai ketidaktahuan kita mengenai Tuhan.
Konon Kaki Semar adalah Kakek moyang yg pertama dan digambarkan sebagai perwujudan dari orang Jawa yg pertama. Karena mendapat "tugas khusus" dari Gusti Kang Murbeng Dumadi (Tuhan YME), maka Kaki Semar memiliki kemungkinan untuk terus hadir dgn keberadaan pada setiap saat, kepada siapa saja dan kapan saja menurut apa yg dikehendaki.

Semar Badranaya adalah tokoh punakawan yang dalam wayang Jawa memiliki peran yang lebih utama daripada wayang babon (wayang dengan tokoh asli India ). Punakawan adalah karakter yang khas dalam wayang Indonesia . Mereka melambangkan sifat manusia. Karakternya mengindikasikan bermacam-macam peran, seperti penasehat para ksatria, penghibur, kritisi social, badut bahkan sumber kebenaran dan kebijakan. Dalam wayang Jawa karakter punakawan terdiri atas Sema r, Garen g, Bagon g dan Petruk .
Di dalam wayang kulit, semar adalah pembantu Pandhawa, tetapi dia sangat dihormati oleh tuannya. Semar biasanya dimintai nasehat oleh Pandhawa dalam mengambil keputusan mengenai masalah yang dianggap gawat dan mendesak. Sebagai punakawan yang tertua, semar tidak punya keinginan memegang kekuasaan duniawi sebagaimana halnya kebanyakan manusia. Hal ini dikarenakan kekuasaan umumnya dapat mengubah watak, situasi sekaligus dapat mencelakakan. Semar dapat mencapai tujuannya secara efektif dengan cara memberi contoh, sebagai metode pengajarannya tanpa bermaksud mengusai orang lain atau harta benda. Masyarakat Jawa percaya bahwa semar adalah turunan dari satu dewa dalam mitos yang paling berkuasa.
Sebagai tokoh wayang yang memiliki banyak keunggulan sifat pribadi, banyak masyarakat Jawa yang tetarik dengan dunia wayang, menjadikan semar sebagai sosok ideal yang patut dijadikan panutan dalam menjalani hidup sehari-hari. Kehadiran semar dalam kehidupan nyata ini sering ditunggu-tunggu mengingat kondisi negara saat ini yang semakin kacau, kesengsaran dan penindasan oleh kaum kuat terhadap yang lemah semakin merajalela, moral dan etika tidak lagi diindahkan, para pemimpin yang hanya memikirkan kekayaan pribadi tanpa peduli dengan keadaan rakyatnya yang semakin tertindas dengan kebijakan-kebijakan yang dikeluarkannya. Dunia pewayangan melukiskan situasi tersebut sebagai penanda akan hadirnya tokoh semar, seorang dewa yang turun dari langit untuk menyelamatkan manusia (Abdul Munir Mulkan, 2005). 

Mitos Asal Usul Semar
Tuti Sumukti (2005:20) mengatakan ada dua versi utama yang menceritakan asal-usul semar. Pertama, langit dan bumi yang dikuasai oleh Sang Hyang Wenang , mempunyai anak bernama Sang Hyang Tunggal . Sang Hyang Tunggal ini mempunyai istri bernama Dewi Rekawati , putri kepiting raksasa yang bernama Rekatama. Pada suatu hari Dewi Rekawati bertelur dan seketika itu telur itu terbang ke langit menuju ke hadapan Sang Hyang Wenang . Telur itu menetas sendiri kemudian muncul tiga makhluk yang berasal dari kulit telur, putih telur dan kuning telur. Makhluk yang berasal dari kulit telur dinamai Tejamantri , dari putih telur adalah Ismaya dan yang dari kuning telur itu Manikmaya.
Pada suatu hari mereka terlibat pertengkaran karena mempermasalahkan siapa yang akan menggantikan kedudukan ayahnya kelak, sebagai penguasa. Manikmaya menyarankan agar diadakan pertandingan menelan gunung dan memuntahkannya kembali. Tejamantri , melakukannya lebih dulu, tetapi gagal. Kemudian Ismaya , dia dapat menelannya, tetapi tidak berhasil memuntahkannya kembali. Kejadian ini menyebabkan terjadinya Goro-Goro atau bencana. Goro-goro ini menyebabkan Sang Hyang Wenang turun tangan dan mengambil keputusan bahwa pada waktunya Manikmaya akan menjadi raja para dewa, penguasa kahyangan dan akan mempunyai keturunan yang menjadi penduduk bumi. Sementara Tejamantri dan Ismaya harus turun ke bumi untuk memelihara keturunan Manikmaya . Keduanya boleh menghadap Sang Hyang Wenang jika Manikmaya bertindak tidak adil. Sejak saat itu nama mereka diganti, Tejamantri menjadi Togog , Ismaya dinamakan Semar dan Manikmaya menjadi Bathara Guru . Karena sebuah gunung pernah ditelannya bentuk tubuh semar menjadi besar, gemuk dan bundar.
Versi kedua, bahwa sebutir telur yang dipegang Sang Hyang Wenang menetas sendiri dan tampaklah langit, bumi dan cahaya atau teja serta dua makhluk anthropomorphis, Manik dan Maya . Versi pertama dan kedua bila dibandingkan akan ada persamaan, Ismaya dari versi pertama dan Maya dari versi kedua terjadi dari putih telur. Manikmaya dan Manik merupakan transformasi dari kuning telur dan keduanya menjadi raja para dewa di surga. Dalam kedua versi tersebut Manikmaya dan Manik menjadi Bathara Guru , yang keturunannya tersebar di surga dan bumi, sedangkan Ismaya dan Maya dinamakan Semar dan dijadikan pelindung bumi. Jelas disini bahwa semar adalah tokoh dominan di alam semesta dan sebagai pelindung bumi yang erat kaitannya dengan penduduk bumi. 

Penggambaran Tokoh Semar
Menurut Herjaka semar dalam bahasa Jawa disebut dempel = keteguhan jiwa . Rambut semar berbentuk seperti kuncung yang bermakna akuning sang kuncung , yaitu sebagai kepribadian pelayan yang mengejawantah untuk melayani manusia.
Dia tidak laki-laki dan bukan perempuan, tangan kanannya ke atas mempunyai makna bahwa sebagai pribadi tokoh semar hendak mengatakan symbol Sang Maha Tunggal . Sedangkan tangan kirinya ke belakang mengandung makna berserah total dan mutlak serta sekaligus symbol kemuliaan yang netral namun simpatik.
Penggambaran bentuk fisik semar tidak mudah ditebak. Wajahnya adalah wajah laki-laki, tapi badannya seperti perempuan dengan perut dan dada besar. Rambutnya putih dan memiliki kerutan di wajah yang menandakan dia telah lanjut usia, tetapi potongan rambutnya kuncung sepeti anak-anak. Bibirnya tersenyum tetapi matanya selalu mengeluarkan air mata. Semar menggunakan kain sarung kawung seperti yang digunakan para abdi.
Penggambaran bentuk yang demikian menjadikan semar sebagai sosok yang sarat misteri dan juga simbol kesempurnaan hidup. Tubuh semar tersimpan karakter wanita, laki-laki, anak-anak, orang tua, ekspresi gembira dan sedih bercampur menjadi satu.melihat genealogi semacam itu, semar selalu hadir dalam setiap lakon wayang dan kehadirannya sangat dinanti para penggemarnya. Meskipun dia seorang abdi , rakyat jelata, buruk rupa, miskin, hitam legam namun dibalik wujud lahirnya tersebut tersimpan sifat-sifat mulia, yakni mengayomi, mampu menyelesaikan masalah, sabar, dan bijaksana. 

Pengertian Pemimpin dan Kepemimpinan
Masalah pemimpin dan kepemimpinan merupakan masalah sosial. Pemimpin tidak akan muncul tanpa adanya masyarakat, pemimpin tidak dapat disebut pemimpin tanpa adanya kelompok individu sebagai bawahannya. Manusia merupakan topik sentral mengenai permasalahan dan tujuan ilmu-ilmu kepemimpinan, khususnya mengenai ketertiban, keselarasan, keteraturan dan ketrentaman hidupnya. Fungsi seorang pemimpin untuk menjaga terlaksananya suatu peraturan yang berlaku sering terjadi meskipun telah dibuat suatu peraturan jika tanpa pengarahan dan petunjuk yang benar dari orang-orang yang lebih tahu (pemimpin), pelaksanaan peraturan itu justru akan menimbulkan permasalahan baru
Seorang pemimpin dapat dilihat dari kemampuannya mewujudkan cita-cita kelompok, kemampuannya untuk berkomunikasi dengan lingkungan juga kemampuan menangkap dan menjabarkan kebudayan yang melingkupi kehidupannya. Pemimpin merupakan figur multidimensi, dimana ia hidup sebagai pribadi, anggota masyarakat sekaligus ketua kelompok. Ia selalu berkepentingan dengan keadaan dan kejadian dalam lingkungannya.
Thomas Aquinas mengatakan bahwa seorang penguasa (pemimpin) negara mempunyai kewajiban terhadap rakyat yang dikuasainya. Tugas penguasa negara yang utama adalah mengusahakan kesejahteraan dan kebajikan hidup bersama. Untuk itu pengusa negara dituntut untuk memungkinkan rakyat memenuhi kebutuhan materialnya, diantaranya kebutuhan sandang pangan. (Ahmad Suhelmi, 2001:100)
Alfred Mc. Lunglee seperti yang dikutip oleh Jarmono (1983), merumuskan pengertian kepemimpinan, bahwa seorang pemimpin ialah seorang yang memiliki status kepemimpinan, suatu posisi penguasaan atau pengendalian yang membudaya di dalam kelompok masyarakat. Menjadi simbol suatu gerakan yang memahami dengan benar akan dirinya sendiri secara internal dan eksternal yang mempunyai peranan sebagai juru bicara kelompoknya. Memiliki sedikit pengikut atau tidak mempunyai pengikut secara langsung, tetapi yang meletakkan jalan dikemudian hari akan dilalui atau diikuti orang lain. 

Konsep Kepemimpinan Ideal Ala Semar
1. Manunggaling Kawula Gusti
Dalam ilmu politik, semar dapat dijadikan sebuah pengejawantahan dari ungkapan Jawa tentang kekuasaan, yaitu Manunggaling kawula-Gusti (kesatuan hamba-Raja). Semar diantara punakawan adalah guru, sesepuh dan pemimpin mereka. Dalam hubungannya dengan Arjuna salah satu dari Pandhawa, semar juga abdi (pelayan). Pelayan disini dapat disamakan dengan ‘pembantu' tetapi bantuan yang diberikan semar lebih bersifat abstrak. Bantuan abstrak yang diberikan semar adalah berupa ajaran. Arjuna dan Semar bersama-sama melambangkan (satuan) yang berupa ‘manusia', Arjuna sebagai pribadi sedangkan semar sebagai pikiran dan kesadarannya. (Tuti Sumukti, 2005:93) Tidak dapat dipisahkannya antara Arjuna dan para punakawan terutama semar ini melembangkan konsep Jawa tentang manunggaling kawula-gusti . Bahwa seorang raja (gusti) dengan mengikuti hukum harus pasrah atau menyerahkan diri pada ajaran tersebut. Dengan cara ini raja dapat mengajar rakyatnya (kawula) dengan memberi contoh menurut hukum yang berlaku.
Selo Soemardjan, yang dikutip oleh Tuti Sumukti (2005: 93-94) menerjemahkan mengenai salah satu cerita dalam lakon wayang yang berjudul Wahyu Tejamaya :
Meskipun raja memegang kekuasaan tertinggi atas rakyatnya, dia harus selalu ingat bahwa dia satu-satunya penghubung, yang sangat berpengaruh diantara kerajaannnya dan dunia (kekuatan) gaib. Dia tidak dapat lepas dari salah satu dari mereka, dan tidak bisa berselisih dengan mereka juga. Nama yang dipakai oleh Sultan Yogyakarta yang pertama mencerminkan kewajiban yang disadari karena kedudukannya yang penting itu. Sebagai pangeran , dia diberi gelar “ Mangkubumi ”, yang artinya memangku dunia ini. Tetapi sebagai sultan atau raja, dia memakai gelar Hamengkubuwono , orang yang melindungi alam semesta. Nama ini memberi tanda kewajiban raja yang utama, yaitu menyatukan kerajaannya dengan alam semesta dengan perantaraan dirinya. Dengan tekanan pada kewajiban utama ini, pertimbangan terpenting kenegaraan ada pada tercapainya persatuan antara kawula atau rakyat dan rajanya yang disebut manunggaling kawula-gusti . Dalam aspek mistiknya, konsep ini bermakna persatuan antara alam gaib dan manusia dan juga persatuan antara manusia dan penciptanya. Konsep persatuan yang harus dicapai dan merupakan kewajiban utama raja ini, disertai dengan adanya nilai-nilai sosial yang diikuti para kawula . Tujuan utama dalam hidup para kawula adalah tercapainya persatuan tersebut diatas. Pada tingkat perseorangan, sesorang dapat bersatu dengan kekuatan alam gaib dengan menyerahkan diri atau pasrah pada ajaran seorang guru, tetapi untuk pemerintahan (kerajaan) dan masyarakat seluruhnya, satu-satunya perantara adalah raja.
Seorang pemimpin sebesar bangsa Indonesia seharusnya dapat memadukan antara atas dan bawah, pemimpin dan yang dipimpin, yang diberi kekuasaan dan yang menjadi sasaran kekuasaan, kepentingan hukum negara dan kepentingan objek hukum. Hukum-hukum negara yang baik belum tentu berakibat baik, jika yang dari atas itu tidak disesuaikan dengan kepentingan dan kondisi rakyat, seperti dalam ajaran manunggaling kawula-gusti .
Semar menghormati rakyat jelata lebih dari menghormati para dewa pemimpin. Badan, karakter dan kualitasnya adalah tingkat tinggi, tetapi perwujudannya sangat merakyat. Semar mudah menangis ketika melihat penderitaan manusia yang di abdi nya, itulah sebabnya wayang semar matanya selalu berair. Semar lebih mampu menangisi orang lain daripada menangisi dirinya sendiri. Semar sudah tidak peduli dan tidak memikirkan dirinya sendiri, tetapi hanya memikirkan penderitaan orang lain. Semar sebagai keturunan dewa seharusnya menguasai ‘dunia atas' dan menguasi segalanya, tetapi ia memilih hanya menjadi abdi, tidak kaya dan tidak berkuasa.
Cerminan seorang pemimpin yang baik melihat yang dipimpinnya tidak dari atas singgasana yang terpisah, tetapi melihat dari sudut pandang rakyat yang dipimpinnya. Pemimpin sejati itu menurut filsafat semar adalah bersifat paradoks. Seorang pemimpin adalah seorang majikan sekaligus pelayan, kaya tetapi tidak terikat dengan kekayaannya, tegas dalam keadilan untuk memutuskan mana yang benar dan yang salah. Ajaran tua tentang kekuasaan politik bersumber dari Hastabrata dan dimitoskan dalam diri semar. 

2. Pengaruh Konsep Kepemimpinan Semar dalam Kehidupan Masyarakat
Kebudayaan Jawa telah melahirkan religi dalam wujud kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, yaitu adanya wujud tokoh wayang semar, jauh sebelum masuknya kebudayaan Hindu, Budha dan Islam di Jawa.
Figure punakawan khususnya semar dapat dijadikan sebagai figur pemimpin yang sejati dalam kehidupan bermasyarakat sesuai dengan pengertian punakawan. Punakawan secara lahiriah adalah sebagai symbol atau suatu pola terstruktur dari ‘pembantu pimpinan' yang sangat ideal. Kata punakawan menurut pedalangan berasal dari kata pono , yang artinya cerdik, cermat dalam pengamatan dan kata kawan = teman. Punakawan berarti teman atau pamong yang sangat cerdik, dapat dipercaya serta mempunyai pandangan yang luas dan pengamatan yang tajam serta cermat. Punakawan itu adalah abdi (bukan pelayan). Abdi itu hendaknya memiliki watak bijaksana, dapat dipercaya, jujur, panjang nalar dan tenang serta berani menghadapi segala situasi dan perasaan, baik yang sederhana maupun yang rumit.
Kehadiran semar dalam kehidupan nyata ini sering ditunggu-tunggu mengingat kondisi negara saat ini yang semakin kacau, kesengsaran dan penindasan oleh kaum kuat terhadap yang lemah semakin merajalela, moral dan etika tidak lagi diindahkan, para pemimpin yang hanya memikirkan kekayaan pribadi tanpa peduli dengan keadaan rakyatnya yang semakin tertindas dengan kebijakan-kebijakan yang dikeluarkannya. Sebagai simbol kearifan dalam dunia wayang, semar adalah dewa yang menyamar sebagai orang kecil untuk mengembalikan perdamaian saat Negara dalam keadaan gawat. Nampaknya hal ini menjadikan banyak masyarakat atau segelintir orang yang masih peduli dengan kelangsungan hidup negara ini mendambakan sosok semar yang menjelma dalam kehidupan real saat ini, yang mampu menyelamatkan bangsa dari berbagai krisis multidimensi yang sedang melanda bangsa Indonesia. Terlebih lagi dalam agama Islam juga diajarkan bahwa akan ada seorang Al-Mahdi yang diturunkan Tuhan sebagai sang pembebas. 

KESIMPULAN
Figur pewayangan yang selalu dijadikan panutan, semar yang memiliki kelebihan-kelebihan tokoh punakawan yang menjadi dewa penyelamat bagi kekacauan sebuah Negara. Penjelmaan dari seorang Batara yang mau menjadi abdi atau pembantu dari para Raja dan Ksatria.
Pertunjukan wayang kulit telah menjadi salah satu wahana terpenting untuk menyampaikan berita dan ajaran yang bersifat kebudayaan kepada masyarakat Jawa khususnya. Melalui cara ini mereka belajar membedakan nilai-nilai positif dan negatif. Dalam cerita wayang, sosok semar mencerminkan tingkah laku yang terpuji dalam menyelesaikan msalah lingkungan yang mencakup pertimbangan kebudayaan. Perbuatan semar yang dalam pembahasan ini mengenai bagaimana seorang pemimpin seharusnya bertindak menunjukkan adanya bimbingan berdasarkan konsep-konsep dan kepercayaan orang Jawa, yang membawa kearah dan tujuan yang rasional. Putusan semar dapat diterima oleh semua pihak.
Di jaman yang menurut Ronggowarsito adalah jaman edan ini, terasa relevan kini, ketika perilaku menyimpang menjadi jalan legal untuk memperoleh kekuasaan dan meraih kekayaan, sementara banyak rakyat kecil yang merasa tertindas dengan keadaan yang semakin tidak menentu, harga-harga barang kebutuhan menjadi mahal sementara perbaikan nasib yang dijanjikan para pemimpin tak kunjung terwujud. Dunia pewayangan melukiskan situasi tersebut sebagai penanda akan hadirnya semar, seorang dewa yang bertugas sebagai penyelamat jaman.
Semar memang ada dalam dunia mitologi, tapi yang penting bagaimana mitos itu menjadi kesadaran budaya dan politik sebagai referensi seluruh dinamika kehidupan sebuah bangsa. Meskipun Negara ini seolah membutuhkan kehadiran seorang semar yang bisa menyelamatkan negara dari keterpurukan yang berkepanjangan, akan tetapi para pemimpin dan rakyat tidak hanya berpangku tangan dan berdiam diri saja menanti kehadiran semar dalam kehidupan nyata tapi hendaknya berusaha memperbaiki diri dengan kembali kepada ajaran agama dan hukum serta norma yang berlaku di masyarakat dengan diawali dari diri pribadi masing-masing. 

Salah satu ajaran hidup dari Kaki Semar:

I. Gusti Kang Murbeng Dumadi
Masyarkat Jawa sudah mengenal suatu kekuatan yang maha dengan Nama Gusti Kang Murbeng Dumadi jauh sebelum agama masuk ke tanah Jawa dan sampai ke tradisi saat ini yang dikenal dengan Kejawen yang merupakan “Tatanan Paugeraning Urip” atau Tatanan berdasarkan dengan Budi Perkerti Luhur.
Keyakinan dalam masyarakat mengenai konsep Ketuhanan adalah berdasarkan sesuatu yang Riil atau “Kesunyatan” yang kemudian di realisasikan dalam peri kehidupan sehari hari dan aturan positip agar masyarakat Jawa dapat hidup dengan baik dan bertanggung jawab.
Mengenai Sang Murbeng Dumadi, Kaki Semar mengatakan “Gusti Kang Murbeng Dumadi ing ngendi papan tetep siji, amergane thukule kepercayaan lan agomo soko kahanan,jaman,bongso lan budoyo kang bedo-bedo. Kang Murbeng Dumadi iso maujud opo wae ananging mewujudan iku dede Gusti Kang Murbeng Dumadi” atau dengan kata lain “ Tuhan Yang Maha Esa itu di sembah di junjung oleh semua manusia tanpa kecuali.oelh semua agama dan kepercayaan.Sejatinya Tuhan Yang Maha Esa itu Satu dan tak ada yang Lain. Yang membedakanya hanya cara menyembaah dan memujanya dimana hal tersebut terjadi karena munculnya agama dan kebudayaan dari jaman, waktu atau bangsa yang berbeda beda…”

Tiga hal yang mendasari Masyarakat Jawa mengenai Konsep Ketuhanan yaitu :
1. Kita Bisa Hidup karena ada yang meghidupkan, yang memberi hidup dan menghidupkan kita adalah Gusti Kang Murbeng Dumadi atau Tuhan Yang Maha Esa.

2. Hendaknya dalam hidup ini kita berpegang pada “Rasa” yaitu dikenal dengan “Tepo seliro” artinya bila kita meraa sakit di cubit maka hendaklah jangan mencubit orang lain.

3. Dalam kehidupan ini jangan suka memaksakan kehendak kepada orang lain “Ojo Seneng Mekso” seperti apa bila kita memiliki suatupakaian yang sangat cocok dengan kita, belum tentu baju itu akan sangat cocok dengan orang lain.

Kaki Semar memberikan piwulangnya mengenai konsep dasar penghayatan Mahluk Kepada Khaliknya yaitu Manusia harus mengehathui Tujuh Sifat Kang Murbeng Dumadi.

1. Tuhan Itu Satu , Esa dan tak ada yang lain, dalam bahasa jawa di sebut “ Gusti Kang Murbeng Dumadi”
2. Tuhan itu bisa mewujud apa saja , tetapi pewujudan itu bukanlah Tuhan.”Ananging wewujudan iku dede Gusti “ yang artinya “ yang berwujud itu adalah Karya Allah.
3. Tuhan Itu ada dimana-mana.”Dadi Ojo Salah Panopo,Mulo nang ngendi papan uga ono Gusti “ maksudnya walau Tuhan ada dimana mana, Tuhan satu juga “Nang awakm ugo ono Gusti” maksudnya manusia itu dalam lingkupan Tuhan secara jiwa dan raga.Tuhan ada dalam dirinya tetapi manusia tak merasakanya dengan panca indra, hanya dapat di rasakan dengan “Roso” bahwa dia ada.”Ananging ojo sepisan pisan awakmu ngaku-aku Gusti”maksudnya manusia harus sadar jiwa dan raga ini hanyalah Karya Allah, walaupun DIA ada dalam Manusia tetapi jangan sekali kali manusia mengaku DIA.
4. Tuhan Itu Langgeng, Tuhan Itu Abadi.dari masal dahulu, sekarang, esok dan sampai seterusnya Tuhan, Gusti Kang Murbeng Dumadi tetaplah Tuhan dan tak akan berubah.
5. Tuhan Itu tidak Tidur “ Gusti Kang Murbeng Dumadi ora nyare” maksudnya Tuhan itu mengetahui segalanya dan semuanya, tak ada satupun kata hilaf dan lalai.
6. Tuhan itu Maha Pengasih, Tuhan Itu Maha Penyayang.maksudnya Tuhan itu maha adil tak membeda bedakan kepada mahluknya, siapa yang berusaha dia yang akan mendapatkan.
7. Tuhan Itu Esa dan Maha Kuasa, apa yang di putuskannya tak ada yang dapat menolaknya,

Dengan menyadari hal tersebut manusia di harapkan :

1. “Manungso urip ngunduh wohe pakertine dhewe dhewe” maksudnya manusia kaa menerima paa yang dia tanam, bila baik yang di tanam, maka yang baiklah akan dia terima.
2. Manusia hidup pada saat ini adalah hasil / proses dari hidup sebelumnya.atau”manungso urip tumimbal soko biyen,nek percoyo marang tumimbal” ada petuah yang mengatakan “ Apabila kamu hendak melihat hidupmu kelak, maka lihat lah hidupmu sekarang, bila hendak melihat hidupmu yang lalu, maka lihatlah hidupmu sekarang”
3. “Manungso urip nggowo apese dhewe dhewe” maksudnya agar kita menghilangkan sifat iri,dengki,tamak, sombong sebab saat mati tak ada sifat duniawi tersebut dibawa dan mengntungkan kita.
4. Manusia tak akan mengerti Rahasia Tuhan, “Ati lan pikiran manungso ora bakal iso mangerteni kabeh rencananing Gusti Kang Murbeng Dumadi:”maka Manusia hiduplah “sak madyo” dan tak perlu “nggege mongso”.ada petuha mengatakan “ Hiduplah dengan usaha, tapi janganlah dengan harapan, karena bila gagal maka yang merasakan diri kita juga”

Maka dalam hal ini Kaki semar menganjurkan Manusia memohon dan mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Esa dengan”Eling lan Percoyo,Sumarah lan seumeleh lan mituhu” kepada Tuhan Yang Maha Esa.

1. Sumarah : Berserah, Pasrah, Percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dengan sumarah ,manusia di harapkan percaya dan yakin akan kasih saying dan kekuasaan Gusti Kang Murbeng Dumadi, Bhawa DIA lah yang mengatur dan aka memebrikan kebaikan dalam kehidupan kita. Keyakinan bahwa apabila kita menghadapai gelombang kehidupan maka Allah akan memebrikan jalan keluar yang terbaik bagi kita.

2. Sumeleh : artinya Patuh dan Bersandar kepada Allah Yang Maha Esa . Manusia sebagai hamba hanya lah berusaha dan keberhasilannya tergantung Kuasa Tuhan yang maha Esa, maka dengan sumeleh ni manusia di harapkan tak mudah putus asa dan teguh dalam usahanya .

3. Mituhu : artinya patuh taat dan disiplin.

I. Tatanan Paugeraning Urip.

Petuah Kaki semar menenai Tatanan Paugeraning Urip bagi manusia dalam mengisi Kehidupanya di alam fana ini :

1. Eling Lan Bektimarang Gusti Kang Murbeng Dumadi : maksudnya Manusia yang sadar akan dirinya akan selalu mengingat dan memuja Tuhan Yang Maha Esa.dimana Allah yang Esa telah membrikan kesepantan bagi manusia untuk hidup dan berkarya di alam yang Indah ini.

2. “Percoyo lan Bekti Marang Utusane Gusti”: maksudnya Manusia sudah seharusnya menghormati dan mengikuti ajaran para Utusan Allah sesuai dengan ajarannya masing masing, dimana semua konsep para Utusan Allah tersebut adalah menganjurkan kebaikan.

3. “Setyo marang Khalifatullah utowo Penggede Negoto”: maksudnya sebaia manusia yang tingal di suatu wilayah,maka adalah wajar dan wajib untuk menghormati dan mengikuti semua peraturan yang di keluarka pemimpinnya yang baik dan bijaksana.

4. “Bekti marang Bhumi Nusontoro” maksudnya sebagai manusia yang tinggal dan hidup di bumi nusantara ini wajib dan wajar unuk merawat dan memperlaukan bumi ini dengan baik, dimana bumi ini telah memberikan kemakmuran bagi penduduk yang mendiaminya.

5. “Bekti Marang Wong Tuwo” : maksudnya Manusia ini tidak dengan semerta merta ada di dunia ini, tetapi melalui perantara Ibu dan Bapaknya, maka hormatilah,mulyakanlah orang tua yang telah merawat kita .

6. “Bekti Marang sedulur Tuwo” : Maksudnya adalah menghormati saudara yang lebih tua dan lebih mengerti dari pada kita, baik dlama umur,pengetahuan maupun kemampuannya.

7. “Tresno marang kabeh kawulo Mudo” : maksudnya menyayangi kawulo yang lebih muda, memberikan bimbingan dan menularkan pengalaman dan pengetahuan kepada yang muda, dengan harapan yang muda ini akan dapat menjadi generasi pengganti yang tangguh dan bertanggung jawab.

8. “Tresno marang sepepadaning manungso” : maksudnya semua manusia itu sama, hanya membedakan warna kulit dan dan budaya saja. Maka hormatila sesame manusia dimana mereka memiliki harka dan martabat yang sama dengan manusia lainya.
9. “Tresno marang sepepadaning Urip” : maksudnya semua yang di ciptakan Allah adalah mahluk yang ada karena kehendak Allah yang Kuasa.memiliki fungsi masing masing.dengan menghormati semua ciptaan Allah maka kita telah menghargai dan menghormati kepada PENCIPTANYA.

10. “Hormat marang kabeh agomo “ : maksudnya hormatilah semua agama atau aliran dan para penganutnya.
11. “Percoyo marang Hukum Alam” : maksudnya selain Allah menurunkan kehidupan,Allah juga menurunkan Hukum Alam dan menjadi hokum sebab akibat, siapa yang menanam maka dia yang menuai,

12. “Percoyo marang kepribaden dhewe tan owah gingsir” : maksudnya manusia ini rapuh dan hatinya berubah ubah, maka hendaklah menyadarinya dan dapat menepatkan diri di hadapan Allah, agar selalu mendapat lindungan dan rahmat Nya dalam menjalani Hiudp dan kehidupan ini.

Tatanan Paugeraning Urip yang 12 di atas di ringkas menjadi tiga konsep:

1. Hubungan Manusia dengan Allah/Tuhan Yang Maha Esa
2. Hubungan Manusia dengan sesama Manusia
3. Hubungan Manusia dengan Alam Semesta.

Kesemua tatanan di tersebut di atas adalah kaitannya dengan konsep “tatanan Menembah”

1. Sangkan Paraning Dumadi : yaitu Sangkaning Dumadi dan Paraning Dumadi dimana maksudnya adalah agar manusia mengetahui dari mana dia berasal dan mau kemana dia akan kembali.

2. Manunggaling Kawulo lan Gusti : yaitu manunggaling kawulo dengan Gusti adalah dengan melakukan smeua perintahnya, melakukan dan menuruti peraturan peraturan yang di perintakan dengan sbeaik baiknya.

3. Kasedan Jati : yaitu dimana posisi kesadaran manusia sampai kepada tataran sangat menyadari dan telah melakukan atau menjalani kehidupan yang di sebutkan di atas sehingga semua telah menuruti kehendak Allah Tuhan Yang Maha Esa. Dengan istilah “Hidup sekali dan mati pun sekali “

II. Tuntunan Sikap terhadap Paugeraning Urip

Kaki Semar menuntunkan sikap terhadapt Paugeraning Urip adalah dengan Kata sesanti atau Petuah “OJO DUMEH,ELING LAN WASPODO”karena :

1. “Ojo dumeh, Eling lan waspodo” adalah bekal manusia menghadapi ujian dan perjuangan hidup dan menjadi senjata ampuh untuk menjadi kesatria utama dalam menaklukan dirinyasendiri dan mewujudkan “Roso setyo lan mituhu dumateng Gusti” serta untuk “ Hamemayu Hayuning Bawono”.

2. “Ojo dumeh, Eling lan Waspodo” adalah sebagai penyeimbang, sehingga pada kondisi maupun situasi apapun manusia akan selamat”Rahayu”, tidak mudah panic dalam setiap pemecahan masalah yang di hadapinya.

3. “ojo dumeh, Eling lan Waspodo”sebagai sarana pencegahan terhadap kecerobohan dan kelalaian yang sering manusia lakukan, karena telah menyadari dan memahami serta mentaati semua kaidah Agama, Budi pekerti, maupun aturan aturan manusia lainnya.

OJO DUMEH yang maksudnya “Jangan Mentang Mentang” adalah suatuperingatan agar manusia tidak larut dengan pa ayang di miliki atau di jalaninya, sehingga cendrung menjalani keputusan hidup yang negatip seperti :

1. Mentang mentang kaya, maka kita menjadi sombong dan merasa semua dapat di beli dengan uang,
2. Mentang menatng Miskin, maka kita menjadi putus asa dan mengakibatkan kita mengumpat sana sini kepada yang kaya..


Siapa yang “mentang mentang” maka suatau saat akan menjadi sebagaimana dalma pribahasa Jawa :
1. Sopo sing Dumeh bakal keweleh
2. Sopo sing adigang bakal keplanggrang
3. Sopo sing Adigung bakal kecemplung
4. Sopo sing Adiguno bakal ciloko
5. Sopo sing Becik bakal ketitik
6. Sopo sing salah bakal seleh
7. Sopo sing Temen bakal Tinemu

Eling Lan Waspodo maksudnya Ingat dan Waspada.

Ingat yang dijalani adalah inget dalam kaitan Menembah kepada Tuhan, ingat akan karunianya, Rahmanya,Nikmatnya , selalu ingat akan kesalahan kita kepada Tuhan, pelanggaran yang kita lakukan dan meminta ampunan kepada Nya. Dengan demikian akan lahirlah Budi perkerti yang luhur sehingga Eling ini akan melahirkan kepedulain kepada manusia dan lingkungan sekitarnya.

Waspodo/Waspada adalah bentuk ke hati-hatian manusia dalam menjalankan hidup, teliti dan mengakibatkan kita menjadi Wara dalam memilih dalam keputusan kita sehari hari. Berhati-hati dalam semua sikap dan tingkah laku. Mana yang merupakan perintah dan mana yang merupakan larangan akan menjadi terang dan jelas bagi kita.sehinga kta akan selamat dalam perjalanan hidup ini.

Ojo Dumeh,Eling lan Waspodo merupakan satu kesatuan yang dipahami secara utuh, sehingga manusia di harapkan menjadi Pasrah dan Yakin Kepada Kekuasaan Tuhan serta menjadi bijaksana,sederhana dan hati hati. Manusia menjadi “Bisa Merasa.” Bukan ”Merasa Bisa.”

Dengan “Ojo Dumeh,Eling lan Waspodo”, maka dalam bahasa Jawa disebutkan ..
1. Ono Luwih,Luwih soko Ono
2. Kang Kebak,Luwih dening kebak
3. Kang suwung,Luwih dening Suwung
4. Kang Pinter, Luwih dening Pinter
5. Kang Sugih, Luwih dening Sugih..

kita sebagai manusia bisa meniru lelakuning hidup dari semar yaitu ' 
hong wilaheng jati awiguno mastuhu bawono langgeng untuk para pengikut kaki semar: 
1. Jika orang bikin kita susah, anggaplah itu adalah tumpukan rejeki. 
2. Mulai hari ini, belajarlah setiap hari menyenangkan orang lain. 
3. Jika kamu merasa pahit dalam hidupmu dengan suatu tujuan, itulah Bahagia. 
4. Lari dan berlarilah yang cepat untuk mengejar hari esok. 
5. Setiap hari kamu sudah harus merasa puas dengan apa yang kamu miliki saat ini. 
6. Setiap kali kalau ada orang memberi kamu satu, kamu harus mengembalikannya sepuluh kali lipat 
7. Nilailah kebaikan orang lain terhadap kamu, tetapi hapuskanlah semua jasa yang pernah kamu berikan kepada orang lain. 
8. Dalam keadaan benar kamu di fitnah, di persalahkan, di hukum maka kamu akan mendapatkan pahala. 
9. Dalam keadaan salah kamu di puji dan di benarkan, itu merupakan hukuman. 
10. Orang yang benar kita bela, tetapi yang salah kita beri nasehat. 
11. Jika perbuatan kamu benar, kamu di fitnah dan di persalahkan, tetapi kamu menerimanya, maka akan datang rezeki kepadamu yang berlimpah-limpah. 
12. Jangan selalu melihat/mengecam kesalahan orang lain, tetapi selalu melihat diri sendiri itulah kebenaran. 
13. Orang yang baik di ajak bergaul, tetapi orang yang jahat di kasihani. 
14. Kalau wajahmu senyum, hati pasti senang, pasti kamu akan Aku terima. 
15. Dua orang saling mengakui kesalahan masing-masing, maka dua orang itu akan bersahabat sepanjang masa. 
16. Saling salah - menyalahkan, maka akan mengakibatkan putus hubungan. 
17. Kalau kamu rela dan tulus menolong orang yang dalam keadaan susah, maka jangan sampai di ketahui bahwa kamu sebagai penolongnya. 
18. Jangan membicarakan sedikitpun kejelekan orang di belakangnya, sebab kamu akan di nilai jelek oleh si pendengar. 
19. Kalau kamu mengetahui orang itu berbuat salah, maka tegurlah langsung dengan kata-kata yang lemah lembu hingga orang itu menjadi lebih insaf. 
rahayu rahayu rahayu


rujukan

jurnalmahasiswa.filsafat.ugm.ac.id/nus-11.htm
http://aindra.blogspot.com/2007/12/konsep-spritual-kaki-semar.html

1 komentar:

  1. Salam..saya sangat puas sekali dengan ulasan ini...terima kasih

    BalasHapus